.quickedit{ display:none; }

Selasa, 27 Mei 2014

MAKALAH ANALISIS VARIAN SATU ARAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.          LATAR BELAKANG
Penelitian salah satu unsur penting dalam kehidupan. Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dengan mempunyai rasa keingintahuan tentang sesuatu, mendorong manusia untuk meneliti dan menghasilkan kebenaran. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan, ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada kriteria perumusan hipotesis, bagaimana bentuk/pola hubungan dalam penelitiannya, bagaimana pola berpikir dalam menyusun hipotesis dan jenis-jenis hipotesis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat hipotesis hingga pola hubungan variabel yang berkaitan dengan penarikan hipotesis.

B.                 RUMUSAN MASALAH
1.                  Apa yang dimaksud dengan hipotesis ?
2.                  Bagaimana hipotesis yang baik ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.                PENGERTIAN HIPOTESIS
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah. Jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya. Seorang peneliti pasti akan mengamati sesuatu gejala, peristiwa, atau masalah yang menjadi focus perhatiannya. Sebelum mendapatkan fakta yang benar, mereka akan membuat dugaan tentang gejala, peristiwa, atau masalah yang menjadi titik perhatiannya tersebut.
Fungsi atau kegunaan hipotesis yang disusun dalam suatu rencana penelitian, setidaknya ada empat yaitu:
a.                   Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya mengenai masalah pendidikan, peneliti harus melangkah lebih jauh dari pada sekedar mengumpukan fakta yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada diantara fakta-fakta tersebut. Antar hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting untuk memahami persoalan. Pola semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan mengemukakan penjelasan. Karena hipotesis tersebut dapat diuji dan divalidasi (pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis dapat mebantu kita untuk memperluas pengetahuan.
b.                     Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
Pertanyaan tidak dapat diuji secara langsung. Penelitian memang dimulai dengan suatu pertanyaan, akan tetapi hanya hubungan antara variabel yang akan dapat duji. Misalnya, peneliti tidak akan menguji pertanyaan apakah komentar guru terhadap pekerjaan murid menyebabkan peningkatan hasil belajar murid secara nyata“? akan tetapi peneliti menguji hipotesis yang tersirat dalam pertanyaan tersebut “komentar guru terhadap hasil pekerjaan murid, menyebabkan meningkatnya hasil belajar murid secara nyata“ atau  yang lebih spesifik lagi “skor hasil belajar siswa yang menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya akan lebih tinggi dari pada skor siswa yang tidak menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya“. Selanjutnya peneliti, dapat melanjutkan penelitiannya dengan meneliti hubngan antara kedua vatiabel tersebut, yaitu komentar guru dan prestasi siswa.
c.                      Hipotesis memberikan arah kepada penelitian
Hipotesis merupakan tujuan khusus. Dengan demikian hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang diperlukan untuk menguji pernyataan tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para peneliti apa yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta yang adahubungann nya dengan pertanyaan tertentu. Hipotesislah yang mentukan relevansi fakta-fakta itu. Hipotesis ini dapat memberikan dasar dalam pemilihan sampel serta prosedur penelitian yang harus dipakai. Hipotesis jufga dapat menunjukkan analisis satatistik yang diperlukan dan hubungannya yang harus menunjukkan analisis statistik yang diperlukan agar ruang lingkup studi tersebut tetap terbatas, dengan mencegahnya menjadi terlalu sarat.
d.                     Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.
Akan sangat memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis tersebut. Artinya, peneliti dapat menyusun bagian laporan tertulis ini diseputar jawaban-jawaban terhadap hipotesis semula, sehingga membuat penyajian ini lebih berarti dan mudah dibaca.

B.                 BEBERAPA KONSEP YANG BERHUBUNGAN DENGAN HIPOTESIS (MENURUT AHLI)
1.                  Fungsi Hipotesis
Ada beberapa pendapat tentang fungsi hipotesis berdasarkan ahli.  Menurut George J Mouley dalam Nanang Martono (2010:60), fungsinya antara lain:
a.             Hipotesis memberikan arahan dalam penelitian yang berguna untuk mencegah kajianliterature dan pengumpulan data yang tidak relevan.
b.            Hipotesis menambah kepekaan peneliti mengenai aspek-aspek tertentu dari situasi yang tidak relevan dari sudut pandang masalah yang dihadapi.
c.             Hipotesis memungkinkan peneliti untuk memahami masalah yang diteliti dengan lebih jelas
d.            Hipotesis digunakan sebagai sebuah kerangka untuk meyakinkan peneliti.
Menurut Donald (1982:121) antara lain:
a.             Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
b.            Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian
c.             Hipotesis memberikan arah kepada penelitian,secara sederhana hipotesis menunjukkan kepada peneliti apa yang harus dilakukannya berkaitan dengan fakta, sampel, dan analisis penelitian yang akan digunakan 
d.            Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

2.                  Karakteristik Hipotesis yang Baik
Ciri-ciri hipotesis yang baik menurut Donald (1982:124) antara lain:
a.             Hipotesis harus memiliki daya penjelas, yaitu hipotesis dikatakan baik jika didukung dengan penjelasan yang baik tentang masalah yang akan diteliti. Contoh: ketika spidol anda tidak bisa lagi digunakan untuk menulis anda memberikan hipotesis bahwa kursi anda patah. Penjelasan ini tidak tepat dan tidak menunjang hipotesis. Hipotesis yang menjelasan bahwa tinta spidol anda habis adalah benar dan perlu diuji. 
b.            Hipotesis menjelaskan hubungan antar variabel-variabel. Maksudnya adalah meskipun ada pernyataan sebagai jawaban sementara akan tetapi tidak menunjukkan hubungan antar variabel maka hipotesis itu tidak dapat diuji. Contoh: “mesin mobil ini tidak akan hidup dan mesin ini memiliki jaringan kabel-kabel” pernyataan ini tidak menunjukkan hubungan antar variabel yang dapat diuji, namun jika pernyataan  berbunyi “akan terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam” maka hipotesis ini memenuhi syarat. Yaitu memiliki hubungan antar variabel yang dapat diuji
c.             Hipotesis harus dapat diuji, hipotesis yang baik harus dapat diuji. Peneliti dapat menarik kesimpulan dan perkiraan sedemikian rupa dari hipotesis yang dirumuskan. Contohnya “kerusakan mobil itu diakibatkan oleh dosa-dosa saya” merupakan hipotesis yang tidak dapat diuji didunia ini. Artinya adalah jika variabel tidak dapat diukur maka peneliti tidak mungkin dapat menguji validitas hipotesis tersebut atau tidak dapat menguji hipotesis.
d.            Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada, artinya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum- hukum yang telah ada sebelumnya dan telah diakui validitasnya, contoh: “mesin mobil saya mati karena air akinya berubah menjadi emas” merupakan hipotesis yang tidak sesuai dengan apa yang telah diketahui orang tentang sifat-sifat benda, yaitu air aki yang berubah menjadi emas bertentangan dengan sifat benda. Sehingga hipotesis hendaknya dibuat sesuai dengan pengetahuan yang sudah mapan dibidang itu.
e.             Hipotesis hendaknya dibuat sesederhana dan seringkas mungkin, tujuannya adalah agar mudah diuji dan memudahkan dalam penyusuan laporan.

3.                  Jenis-Jenis Hipotesis
Jenis-jenis hipotesis berdasarkan hubungan antar variabel dalam Nanang Martono (2010:63), yaitu:
a.             Hipotesis deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan hipotesis yang menggambarkan  sebuah kelompok atau variabel tanpa menghubungkan dengan variabel lain. Hipotesis deskriptif juga mampu memberikan gambaran atau deksripsi tentang sampel penelitian. Contoh 70% peduduk di pedesaan bekerja sebagai petani.
b.            Hipotesis asosiasitf
Hipotesis asosiatif merupakan jenis hipotesis yang menjelaskan hubungan antar variabel. Hipotesis ini dalam sebuah penelitian selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menjelaskan hubungan antar dua variabel atau lebih. Contoh jenis kelamin mempengaruhi prestasi belajar.
Neuman dalam Nanang Martono (2010:63), menjelaskan karakteristik hipotesis asosiatif yang baik antara lain:
1.            Mempunyai minimal dua variabel yang dihubungkan.
2.            Menunjukan hubungan sebab akibat atau pengaruh mempengaruhi di anatara dua variabel atau lebih.
3.            Menunjukan perkiraan atau prediksi mengenai hasil yang diharapkan.
4.            Menghubungkan secara logis antara masalah penelitian dengan teori.
5.            Dapat diuji kembali dalam fakt-fakta empiris dan menunjukan kebenaran atau kesalahan.
c.             Hipotesis komparatif
Hipotesis komparatif merupakan hipotesis yang menyatakan perbandungan antara sampel atau variabel yang satu dengan variabel lain. Contoh terdapat perbedaan prestasi belajar anatara siswa laki-laki dan perempuan.

C.                PENGUJIAN HIPOTESIS
Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah peneliti yang secara rasional dideduksi dari teori.  Tujuan pengujian hipotesis adalah untuk menentukan apakah jawaban teoritis yang terkandung dalam pernyataan hipotesis didukung oleh fakta yang dikumpulkan dan dianalisis dalam proses pengujian data.
Dalam pengujian hipotesis beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.                  Estimasi dan Probabilitas
Pengujian hipotesis dengan menggunakan data sampel merupakan pembuatan keputusan melalui proses inferensi yang memerlukat akurasi peneliti dalam melakukan estimasi.  Proses inferensi dapat dilakukan melalui estimasi nilai parameter populasi atau membuat keputusan mengenai nilai parameter.
2.                  Kriteria Keputusan
Kriteria Keputusan bisa dilihat dari tingkat signifikasi yaitu tingkat probabilitas yang ditentukan oleh peneliti untuk membuat keputusan menolak atau mendukung hipotesis.  Tingkat keyakinan adalah tingkat probabilitas yang ditetapkan oleh peneliti bahwa statistik sampel dapat mengestimasi parameter populasi secara akurat.  Tingkat signifikasi menunjukkan probabilitas kesalahan yang dibuat peneliti untuk menolak atau mendukung hipotesis.
Tingkat signifikansi 0,05 artinya adalah keputusan menolak atau mendukung suatu hipotesis mempunyai probabilitas kesalahan sebesar lima persen.      
3.                  Hipotesis Nol dan Hipotesis Alternatif.
 Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan status Quo tujuannya adalah memberikan kemungkinan adanya perbedaan ekspektasi peneliti dengan fenomena yang terjadi.
Hipotesa alternative menunjukkan ekspektasi peneliti terhadap fenomena yang terjadi atau dugaan sementara peneliti terhadap fenomena yang terjadi.
4.                  Kesalahan tipe satu dan kesalahan tipe II
a.                Kesalahan Tipe I
Kesalahan peneliti karena menolak hipotesa nol padahal hipotesa nol adalah benar.  Contohnya: menghukum orang yang tidak bersalah.  Kesalahan tipe I diberi symbol alpha: α
b.               Kesalahan tipe II
Keputusan peneliti mendukung hipotesa nol padahal hipotesa nol adalah salah.  Contohnya: melepaskan orang yang bersalah.  Kesalahan tipe II diberi symbol beta: β
Kesalahan tipe I dan II dapat dikurangi dengan menambah jumlah sample.  kesalaha tipe I lebih serius dibandingkan dengan kesalah tipe II.  Oleh karena itu keputusan yang digunakan peneliti dalam pengujian hipotesis lebih ditekankan pada penetapan tingkat signifikansi daripada beta.







BAB III
PENUTUP

A.                KESIMPULAN
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang harus diuji, pengujian itu bertujuan untuk membuktikan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Hipotesis berfungsi sebagai; kerangka kerja bagi peneliti, memberi arah kerja, dan mempermudah dalam penyusunan laporan penelitian.
Hipotesis adalah dugaan/pernyataan sementara yang diungkapkan secara deklaratif yang menjadi jawaban dari sebuah permasalahan. Permasalahan tersebut diformulasikan dalam bentuk variable agar bias di uji secara empiris. Hipotesis identik dari perkiraan atau prediksi. Dari sebuah hipotesis maka akan menimbulkan sustu prediksi, karena prediksi adalah hasil yang diharapkan diperoleh dari hipotesis.
Hipotesis dapat diketahui jika telah melakukan suatu percobaan sehingga mengetahui hasilnya. Seorang ilmuwan/peneliti haruslah mempunyai kemampuan untuk memprediksi suatu permasalahan. Maka kemampuan memprediksi merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang ilmuan/peneliti.

B.                 SARAN
Kepada pembaca diharapkan untuk terus meningkatkan kompetensi dan wawasan yang berhubungan dengan penelitian, hal ini dikarenakan penelitian merupakan cara primer manusia dalam mengembangkan kajian ilmu. Dengan berkembangnya ilmu bimbingan dan konseling tentunya akan mempermudah personal-personal dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup yang makin kompleks mengikuti perkembangan masa.